Cari Blog Ini

Selasa, 03 Agustus 2010

Puisi

Hikmah

Suhrtono, S।Pd.


AKU BERJALAN MEMBISU DAN BERNYAYI DALAM HATI

DUDUK TERMENUNG TERTEGUN KADANG MELAMUN MELAYANG

SAYUP SEPOI ANGIN KEDAMAIAN TERASA DARI LUBUK YANG DALAM

DIANTARA BERDIRI POHON PINUS YANG TEGANG MENCEKAM

JALAN BERKELOK-KELOK DISANDING SEMRAWUT RERUMPUTAN

ILALANG DENGAN ELOK GEMULAINYA MENARI-NARI DIKEJAHUAN

HINGGA MENGHILANGKAN KEJENUHAN NAN MEMBOSANKAN

SEAKAN TAK INGAT LAGI HINGAR BINGAR FATAMORGANA KOTA YANG KEJAM

YANG ADA SEKARANG KETENANGAN DAN KEDAMAIAN DIANTARA PEPOHONAN

KINI BARU SADAR AKAN KEKURANGAN DAN KELEMAHAN

BAHWA BAGI YANG YANG BERJALAN PASTI ADA HALANGAN DAN BENTURAN

SEPERTI AIR YANG MENGALIR DIHALANG SEMAK DAN BEBATUAN

ANGIN YANG BERHEMBUS MENAMPAR PINUS MENJULANG

RANTING DAHAN YANG BERGESEKAN TUMBANG TAK TERTAHANKAN

TINGGI DATARAN LONGSOR TERKIKIS OLEH BERUBAHAN ZAMAN

YANG HIDUP PASTI DIUJI DENGAN SEGALA COBAAN BAIK ATAU BURUK

KADANG DIMANJA, DIRAYU, DIHASUT, DICELA BAHKAN DIMAKI

MUNGKIN ADA YANG DIBENCI TAPI DICINTA

ADA YANG MENYAYANG TAPI BOHONG BELAKA

ADA YANG PEMARAH TAPI BEREHATI MULIA

ADA YANG YANG BERMULUT BESAR TAMBAH TAK KARUAN

ADA YANG YANG PENDIAM TAPI SANGAT MEMBAHAYAKAN

Ada yang berlagak jujur ternyata bajingan

Ada yang sok menolong tetapi ada maksud dan tujuan

Ada yang kelihatan cuek dan acuh sebenarnya perhatian

Ada yang menjadi penghibur ternyata malah menyebalkan

Ada yang sok dermawan karena ada yang ingin dimanfaatkan

Ada yang kelihatan periang sedangkan hatinya menangis kencang

Ada yang merasa menang tetapi itu awal dari suatu kehancuran

Ada yang merasa kalah sungguh dihatinya merasa berbahagia

Kesemuannya pasti akan berakhir yang menang surga tempatnya

Senandung alam membawa kekhayalan

Hingga tak sadarkan diri pada kenyataan

Itulah hidup dialam yang fana yang menyeramkan

Lihat saja pohon-pohon ini sepulangku mungkin sudah hilang

Lihat saja yang mengerti jelek juga masih dijalankan

Lihat saja mengerti baik harus dilakukan malah diabaikan

Lihat saja mestinya pakai aturan bisa menyelamatkan tapi dilanggarnya

Lihat saja dinasehati siapa saja tentu lebih senang acuhkannya

Lihat saja hidup tentu mencari manfaatnya malah mencari sengsara

Mengapa sudah tahu sakit tidak diobatinya senang pamer kelemahannya

Seolah diri paling berkuasa dan tak ada tandingannya

Tidak ingat lagi apa untung, guna manfaatnya serta kerugiannya

Asal senang perut kenyang tidak fikirkan keturunan

Pucuk pinus menyadarkan ambisi dan keangkara murkaan


Surabaya, 15 Obtober 1998

BUMI PERKEMAHAN “ KAKEK BODO “

TRETES PRIGEN KAB. PASURUAN



K E T I K A

Suhartono, S.Pd

Aku biarkan diriku berpura-pura diam
Ketika Pendidikan Hanya Menghasilkan Air mata

Aku mencari sosok bernama makhluk kepala sekolah
Dan bertanya-tanya apa saja yang harus dilakukan?
Adakah berusaha memahami kebutuhan gurunya?
Adakah selalu mencari masukan dari lingkungan sekitarnya?

Adakah mereka selalu mengingatkan orang tua
untuk meningkatkan kepedulian?
Adakah juga tahu siapa konstituen yang mengikutinya?
Adakah punya keberanian untuk memulai pembaharuan?
Adakah harga diri untuk tak sudi dijadikan “komandan sekolah?
Ramabate rata hayo tidak hanya tut wuri handayani
Adakah menyadari pentingnya mitra sekolah
dan komite sekolah yang bukan hanya formalitas!
Adakah menjadi panutan bagi pengajar di sekolah?
dan adakah tekad untuk menjadikan sekolah otonom?
adakah inisiatif-kreatif untuk tidak lagi menunggu petunjuk pusat?
adakah tindakan tegas menyikapi masalah?
Aku hanya bisa menduga-duga baiknya
terkadang aku berfikir ewuh pakewuh

Tapi aku hanya bias diam saja


Surabaya, 22 Agustus 2004




Semacam

Bila semacam

Bila sehati

Bila sejalan

Bila sepandang

Maka selamatkan diri

Maka tentramkan nurani

Maka mencapai surgamu

Maka melancarkandi rahi

Bukan semata keinginan

Bukan hanya di khayal

Bukan karena kebetulan

Bukan mimpi belaka

Tapai hidup nyata

Tapi mati pasti

Tapi indah dirasa

Tapi buruk hindari

Jagan macam-macam

Jangan cari kesulitan

Jangan rupa-rupa

Jangan tunjukkan kebodahan

Mawas…….

Semacam saja……

Surabaya, 25 Mei 2005



SENANDUNG ALAM

Oleh : Dimas Hartono

AKU BERJALAN MEMBISU DAN BERNYAYI DALAM HATI

DUDUK TERMENUNG TERTEGUN KADANG MELAMUN MELAYANG

SAYUP SEPOI ANGIN KEDAMAIAN TERASA DARI LUBUK YANG DALAM

DIANTARA BERDIRI POHON PINUS YANG TEGANG MENCEKAM

JALAN BERKELOK-KELOK DISANDING SEMRAWUT RERUMPUTAN

ILALANG DENGAN ELOK GEMULAINYA MENARI-NARI DIKEJAHUAN

HINGGA MENGHILANGKAN KEJENUHAN NAN MEMBOSANKAN

SEAKAN TAK INGAT LAGI HINGAR BINGAR FATAMORGANA KOTA YANG KEJAM

YANG ADA SEKARANG KETENANGAN DAN KEDAMAIAN DIANTARA PEPOHONAN

KINI BARU SADAR AKAN KEKURANGAN DAN KELEMAHAN

BAHWA BAGI YANG YANG BERJALAN PASTI ADA HALANGAN DAN BENTURAN

SEPERTI AIR YANG MENGALIR DIHALANG SEMAK DAN BEBATUAN

ANGIN YANG BERHEMBUS MENAMPAR PINUS MENJULANG

RANTING DAHAN YANG BERGESEKAN TUMBANG TAK TERTAHANKAN

TINGGI DATARAN LONGSOR TERKIKIS OLEH BERUBAHAN ZAMAN

YANG HIDUP PASTI DIUJI DENGAN SEGALA COBAAN BAIK ATAU BURUK

KADANG DIMANJA, DIRAYU, DIHASUT, DICELA BAHKAN DIMAKI

MUNGKIN ADA YANG DIBENCI TAPI DICINTA

ADA YANG MENYAYANG TAPI BOHONG BELAKA

ADA YANG PEMARAH TAPI BEREHATI MULIA

ADA YANG YANG BERMULUT BESAR TAMBAH TAK KARUAN

ADA YANG YANG PENDIAM TAPI SANGAT MEMBAHAYAKAN


Surabaya, 07 Pebruari 2007



DILEMA DIANTARA MAHLIGAI

Oleh : Dimas Hartono


Tidurku tak nyenyak Bayangku tersandung bayangmu

Wajahmu selalu menjelma yang mengganggu gairahku

Aku selalu teringat waktu membelai rambutmu

Dan masih kurasakan kehangatan keningmu

Ku ingin selalu memeluk dan tak lepaskan

Mempermainkan letik jemarimu yang kadang kutekan-tekan

Bercerita tentang angan-angan kehidupan

Dan sesekali sunggingmu melekat dalam ingatan

Kau jelmaan bayangan selama ini

Tapi mengapa kau menjelma disaat bunga bersemi

Engkau si bidadari pelita jiwa murni

Indahnya lesung pipi membuatku tak sadarkan diri

Aku tak perlu membohongi diri

Bila kau hadir terasa sejuk di hati

Ku terkesima nikmati pesonamu nan berseri

Tak mungkin kubiarkan bungaku layu dan mati

Kau bunga jiwa sadarkah hubungan ini

Atau kau hanya permainkan hati

Hanya engkau yang mengerti arti semua ini

Yang jelas kudilema oleh cinta sejati

Yang ku harap kau yang lebih mengerti

Bahwa aku tulus menyayangi

Karena kuingin kau selalu ada disisih

Serta tak membicarakan kebimbangan hati

Walau semua telah kupaparkan jati diri

Tetapi kau mengimbangi hasrat hati

Kau lebih mengerti dan lebih memahami

Arti semua ini walau aku telah berbagi kasih

Aku tak mungkin bisa akhiri atau putuskan

Engkaulah yang harus mengerti arti sebuah hubungan

Yang terus mengusik kau tak hadir lebih dulu dihadapan

Inikah suratan yang pasti hadirmu sungguh menggelisahkan

Aku yang dilemma diantara mahligai kebahagiaan.


Surabaya, 1 Desember 1998



DO’A

Suhrtono, S।Pd.

Ya Allah pengisi hati

Ya Allah pemberi rizki

YA Allah pengisih ilmu

Ya Alah penanam drajat

Limpahkanlah kasih dan sayangmu

Curahkanlah petunjuk dan karuniamu

Cucurkanlah rahmat dan berkahmu

Luapkan cahaya dan kemulyaanmu

Bukakan rahmat cerahkanlah pikiranku

Mudahkanlah segala urusanku

Lancarkan niatku hingga tercapai tujuanku

Bimbinglah langkah dan daya fikiranku

Ya Allah …………

sesungguhnya engkau maha kuasa

engkau maha mendengar suara

engkau maha melihat segala

sesungguhnya engkau maha mengtahui semua

Aku mohon belas kasih ampunan Mu

Aku mohon perlindungan dari semua lakuku

Aku mohon limpahan rizki

Aku mohon lapangkan dadaku

Aku mohon tinggikan derajatku

Aku mohon Anugrahkan mukzizatmu

Aku mohon hindarkan dari balak dan cobaan

Aku mohon kuatkan imanku


Surabaya, 07 Pebruari २००७







Tidak ada komentar: